Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Tengah


Deprecated: mysql_connect(): The mysql extension is deprecated and will be removed in the future: use mysqli or PDO instead in /home/bksdasul/public_html/xsetup/koneksi.php on line 8
Slide Taman Wisata Alam Wera
Slide Habitat Maleo di Desa Taima
Slide
Slide Danau Poso
Slide


Pemetaan Kawasan Hutan Dengan Drone

09 Januari 2018

Apa itu drone?

Drone atau UAV (Unmanned Air Vehicle) merupakan jenis pesawat terbang yang dikendalikan alat sistem kendali jarak jauh lewat gelombang radio. UAV biasanya dilengkapi alat atau sistem pengendali terbang melalui gelombang radio, navigasi presisi (Ground Positioning System – GPS) dan elektronik control penerbangan serta kamera resolusi tinggi.

 

Ada dua jenis drone : multicopter dan fixed wing. Multicopter berbentuk helicopter dengan beberapa baling-baling vertikal. Multicopter berfungsi sebagai inspeksi dan dokumentasi karena memiliki kestabilan yang sangat bagus sedangkan fixed wing biasanya digunakan untuk pemetaan (scanning) serta mempunyai jangkauan lebih luas dan pergerakan yang lebih cepat.

 

Pemetaan udara dan fotogrametri

Data penginderaan jarak jauh telah banyak digunakan untuk identifikasi dan pemantauan kondisi kawasan hutan. Penggunaan citra satelit optik sering kali terkendala oleh tutupan awan, ketergantungan pada penyedia data, harga yang relatif mahal dan waktu akuisisi dan lokasi data yang diperlukan tidak fleksibel. Terlepas dari kendala tersebut, penggunaan drone punya prospek yang baik untuk digunakan secara operasional baik di sektor kehutanan dan sektor yang lain.

 

Dengan menggunakan drone, survei udara dengan tujuan pemetaan dan fotogrametri bisa lebih mudah, murah serta cepat. Drone yang dapat terbang rendah akan menghasilkan resolusi peta citra yang tinggi (hingga 2 sentimeter per pixel), serta bentuknya yang ringkas membuatnya mudah diterbangkan dimana saja. Umumnya, industri yang menggunakan drone untuk pemetaan adalah industri perkebunan kelapa sawit, hutan tanaman industri, dinas pekerjaan umum, hingga kontraktor yang ingin melihat perkembangan proyeknya.

 

Pengadaan data geo-spasial dalam rangka pemetaan suatu daerah antara lain dapat dilakukan melalui metode terestrial (pengukuran langsung di lapangan), fotogrametri (pemotretan udara), penginderaan jauh, GPS. Fotogrametri adalah suatu metode objek-objek di permukaan bumi yang menggunakan foto udara sebagai media, dengan hasil peta garis, peta digital dan peta foto. Secara umum fotogrametri merupakan teknologi geoinformasi dengan memanfaatkan data geo-spasial yang diperoleh melalui pemotretan udara. Metode fotogrametri banyak dipakai dalam pembuatan geo-informasi karena obyek yang terliput terlihat apa adanya, produk dapat berupa peta garis, peta foto, atau kombinasi peta foto – peta garis, proses pengambilan data geo-spatial relatif cepat, dan efektif untuk cakupan daerah yang relatif luas. Sebagai bahan dasar dalam pembuatan geo-informasi secara fotogrametris yaitu foto udara yang saling bertampalan (overlaped foto).

 

 

Umumnya foto tersebut diperoleh melalui pemotretan udara pada ketinggian tertentu menggunakan pesawat udara. Ground Sampling Distance (GSD) atau resolusi spasial merupakan rasio antara nilai ukuran citra digital (pixel) dengan nilai ukuran sebenarnya (cm) yang dihitung dalam bentuk cm/pixel (5cm/pixel berarti 1 pixel  pada citra adalah 5 cm pada ukuran sebenarnya). GDS menentukan kualitas citra udara yang dihasilkan.

 

Sebagai pembanding berikut adalah GDS dari peta citra dari berbagai sumber :

1. GDS pada citra Google Earth rata-rata adalah 1,5m/pixel untuk area rural dan 60cm/pixel untuk area perkotaan (diambil dari Digital Globe)

2. GDS pada citra Quickbird (satelit penyedia citra yang cukup ternama) adalah 60cm/pixel

3. GDS pada citra citra GeoEye-1 (satelit penyedia terbaik dan terbaru) adalah 40cm/pixel

4. GDS pada peta yang dihasilkan drone adalah 15cm/pixel hingga 5cm/pixel, atau bahkan hingga 1cm/pixel untuk area sangat kecil (<60 Ha).

 

Jadi semakin kecil nilai GDS sebuah citra, semakin baik resolusinya. Besarnya resolusi spasial foto atau GDS ditentukan oleh ketinggian terbang pada saat proses akuisisi data foto udara sehingga pemotretan harus dilakukan pada ketinggian yang tepat untuk mendapatkan GDS yang diharapkan.

 

Aplikasi di kawasan kehutanan

Penggunaan drone secara komersial di Indonesia banyak bermula dari munculnya kebutuhan akan data aktual dan faktual dari industri perkebunan kelapa sawit. Sebelumnya, data tersebut didapatkan oleh perusahaan melalui citra satelit. Sayangnya, masih banyak keterbatasan yang dimiliki citra satelit, antara lain :

 

  • Keterbatasan resolusi spasial yang disajikanya itu di kisaran 30cm/pixel untuk citra berbayar dan 60-150 cm/pixel untuk citra gratis (Google Earth), padahal yang dibutuhkan adalah resolusi spasial dibawah 15cm/pixel agar dapat mengekstrak informasi lebih mendalam seperti jumlah pokok, kondisi kesehatan pokok dilihat dari warna, hingga mencari daerah sisipan.
  • Aktualitas data. Biasanya, data citra satelit terbagi dua jenis, terkini dan arsip. Harga citra terkini umumnya lebih mahal, sedangkan harga citra arsip lebih murah namun bukanlah data aktual (biasanya diambil beberapa bulan sebelum)
  • Lead time yang panjang apabila memesan data citra satelit terkini, karena satelit tidak dapat serta merta menuju titik lokasi, serta harus dipastikan titik lokasi sedang memiliki cuaca bagus dan tidak berawan.
  • Cloud percentage yang biasanya memiliki nilai 5 persen, karena sampai saat ini belum ditemukan teknologi kamera tembus awan. Selain itu, apabila membutuhkan citra cloud free, umumnya ada biaya tambahan yang harus dikeluarkan, serta waktu tambahan untuk memastikan seluruh citra bebas awan.
  • Adanya minimum order, yaitu pada 100 sqkm atau 10.000 hektar. Hal ini menjadi kurang ekonomis bagi pemilik lahan kecil.

 

Dari permasalahan-permasalah diatas, munculah teknologi drone sebagai solusi, dimana drone ini memiliki keunggulan sebagai berikut :

  • Resolusi spasial yang sangat tinggi yaitu hingga 5cm/pixel, dibandingkan satelit yang hanya 30 cm/pixel.
  • Data aktual, karena citra diambil pada saat dibutuhkan
  • Lead time yang pendek. Dengan kapasitas pengambilan data hingga 70.000 hektar per minggu, lead time yang dibutuhkan akan sangat singkat dibandingkan dengan citra satelit.
  • Cloud free karena drone terbang dibawah awan.
  • Mobilitas yang mudah dan dapat dioperasikan di kondisi geografis seperti apapun.

 

Diharapkan pesawat tanpa awak ini merupakan solusi pemetaan kawasan hutan yang susah dijangkau.

 

 [Wahyu Yuananti, S.Kom - Prakom Pertama]